Pages

Selasa, 23 November 2010

Pengaruh Promosi dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Harian Umum SOLOPOS di Kota Surakarta

“Pengaruh Promosi dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Harian Umum SOLOPOS di Kota Surakarta”.

Latar belakang

PEMASARAN bukanlah urusan penjualan atau distribusi saja. Prosesnya, yang meliputi
kegiatan praproduksi sampai pemenuhan kepuasan konsumen purnajual, mencakup juga tujuan
perusahaan demi menciptakan kepuasan konsumen.
Demi memenangkan persaingan, pemahaman perilaku konsumen adalah akar persoalan yang tak
dapat perusahaan pandang sebelah mata. Wajib hukumnya, perusahaan menjadi yang terdahulu
melakukan analisa kesempatan pasar, pemenuhan marketing-mix, serta penyelarasan ulang
strategi yang berkiblat pada perilaku konsumen. Mengapa demikian?
Kini, seiring terjadinya kemajuan di berbagai bidang, konsumen menjadi lebih selektif dalam
membeli. Mereka semakin jeli menilai atribut-atribut produk. Artinya, merka hanya akan
memilih produk/merk yang memberikan kepuasan tertinggi, sesuai dengan jangkauan
ekonominya.
Faktor-Faktor yg mempengaruhi perilaku konsumen
Banyak faktor pengaruh yang turut andil jika kita hendak membicarakan perilaku konsumen
antara lain :

Faktor internal : , sikap, kepribadian, penghematan, dan proses belajar.
Faktor eksternal : faktor kebudayaan, keluarga, kelompok referensi, kelas sosial, demografi, dan
ekonomi (James F. Engel, 1995: 10).
Perilaku konsumen sendiri, menurut James F. Engel dalam (dalam Fandy Tjiptono, 1997: 19),
merupakan tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh,
menggunakan, dan menentukan produk dan jasa. Juga termasuk di dalamnya, proses
pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut.
Keputusan pembelian mempunyai beberapa pertimbangan, di antaranya: harga, keputusan
tentang jenis produk, bentuk produk, merk, hingga ke baik-buruknya pelayanan yang
dirasakan.
Berpromosi
Selain dengan mengawal terus-menerus kualitas produk, kegiatan berpromosi pun tak boleh
perusahaan anggap sepele. Ia juga titik sentral kegiatan pemasaran. Tujuan berpromosi adalah
meningkatkan kesadaran akan merk (brand) dan citra (image) masyarakat terhadap produk
maupun perusahaannya.
Menurut Fandy Tjiptono (1997: 219), promosi adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan
informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan
dan produknya. Dengannya, diharapkan pasar bersedia menerima, membeli, hingga terbentuk
loyaitas akan produk yang ditawarkan.
Ada empat tujuan promosi, menurut Basu Swastha dan Irawan (1990: 353), yaitu: (1)
memodifikasi tingkah laku, (2) memberitahu, (3) membujuk, dan (4) mengingatkan. Suatu
promosi dikatakan berhasil hingga ia mampu memenuhi empat kriteria di atas. Ia harus dapat
menumbuhkan kesadaran konsumen akan merk dan citra produk, untuk selanjutnya
membujuk masyarakat membeli produknya. Kini, di tengah pesatnya persaingan dunia usaha,
segala sesuatu kian gencar dijadikan bahan jualan oleh para pelaku usaha. Demikan halnya
dengan informasi. Ia bukan lagi sekadar kebutuhan.
Persis adagium information is power (penguasaan informasi adalah kekuatan), ia sudah menjadi
komoditi strategis bagi khalayak.

Pers Indonesia
sejak akhir abad ke-20 informasi berubah menjadi komoditi bisnis yang menggiurkan. Para
pelaku usaha berlomba-lomba menjadikan pers sebagai lembaga bisnis.
Usaha penerbitan surat kabar, misalnya, kini mulai dikelola secara profesional dengan
berorientasi keuntungan (profit oriented). Ia menjadi percaturan bisnis yang menggairahkan.
Mengapa bisnis penerbitan pers kian tumbuh subur? Menurut McLuhan, dalam melaksanakan
hajatnya, manusia membutuhkan media massa untuk memperoleh informasi, sekaligus
berkomunikasi dengan lingkungannya (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).
Maxwell E. McCombs dan Lee B. Becker dalam bukunya, Using Mass Communication Theory,
menyebutkan tujuh sebab mengapa manusia membutuhkan media massa: (1) mengetahui apa
yang penting dan perlu baginya, (2) menjadi bahan rujukan sebelum mengambil keputusan, (3)
memperoleh informasi sebagai bahan pembahasan, (4) memberikan perasaan ikut serta dalam
setiap kejadian, (5) memberikan penguatan atas pendapatnya, (6) mencari konfirmasi atas
keputusan yang diambilnya, dan (7) memperoleh relaksasi dan hiburan (dalam Totok Djuroto,
2000:97).
Di Indonesia, momentum kebangkitan industri pers bermula sejak terbitnya UU No 40/1999
tentang Pers, tepatnya pasca-tumbangnya Orde Baru. Bak cendawan di musim hujan, surat kabar
lokal alias community newspaper mulai tumbuh di mana-mana. Maklum, sejak adanya maktub
ini, pendirian lembaga pers tak lagi mengharuskan lisensi dari pemerintah. Asalkan berbadan
hukum, siapa saja boleh mendirikan penerbitan pers.
Tak pelak, tak hanya tingkat provinsi, wilayah kabupaten hingga kecamatan pun kini memiliki
surat kabarnya sendiri. Berlakunya otonomi-daerah pun ditengarai membidani lahirnya beragam
surat kabar lokal di daerah. Menurut data Depkominfo, hingga tahun 2000 saja, surat izin usaha
penerbitan pers (SIUPP) yang telah dikeluarkan pemeritah mencapai sekitar 1.800-2.000,
sementara oplahnya mencapai 14 juta eksemplar (Totok Djuroto, 2000: 93).
Di era kekinian, penerbitan pers dituntut mumpuni membaca keinginan konsumen dalam
mempertahankan ataupun memperluas ceruk pasarnya. Pengelola surat kabar harus terang
merumuskan bauran pemasaran yang tepat untuk memenangkan publik pembaca. Sebab,
perubahan besar dunia komunikasi informasi dan meningkatnya kaum terdidik, ikut andil dalam
mendongkrak tuntutan kualitas yang lebih baik.

Harian SOLOPOS
Untuk itu, di tengah gencarnya persaingan surat kabar, khususnya di Jawa Tengah, Harian
Umum (HU) SOLOPOS, surat kabar harian pagi yang terbit di Kota Surakarta, harus terus
berusaha mempertahankan oplahnya.
Awalnya, persiapan penerbitan koran terbesar di eks-Karesidenan Surakarta ini mulai intensif
Sejak SIUPP turun pada 12 Agustus 1997. SOLOPOS, berdasarkan SIUPP-nya, disebutkan terbit
7 kali seminggu. Edisi Minggu sendiri, terbit pertama kali pada 28 Juni 1998.
Berbeda dengan koran-koran di daerah lain yang umumnya mengklaim diri sebagai Koran
nasional yang terbit di daerah, SOLOPOS justru menempatkan diri sebagai koran daerah.
Pasalnya, koran yang diterbitkan PT. Aksara SOLOPOS ini ingin besar di daerah bersama-sama
dinamika masyarakat Surakarta yang bakal menjadi kota internasional.
Selain kejumudan persaingan surat kabar di atas, terbentuknya masyarakat lilterasi di negeri ini
nyatanya masih jauh dari harapan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 (Suara
Merdeka, 15 Maret 2007), penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11
persen, sedangkan tabloid/majalah sebesar 29,2 persen.
Untuk buku, ternyata jenis fiksi lebih digemari, yaitu sebesar 44,28 persen. Untuk nonfiksi,
sebesar 21,07 persen. Data BPS tahun 2006 juga menunjukkan, masyarakat lebih memilih
televisi sebagai sumber informasi, sebesar 85,9 persen. Sedangkan yang dari membaca, hanya
23,5 persen.
Di tengah tantangan ini, juga mengingat kian gencarnya persaingan surat kabar dewasa ini,
penting bagi perusahaan untuk memahami perilaku konsumennya dalam memutuskan membeli.

Kesimpulan
faktor pengaruh yang turut andil jika kita hendak membicarakan perilaku konsumen
antara lain :
Faktor internal : , sikap, kepribadian, penghematan, dan proses belajar.
Faktor eksternal : faktor kebudayaan, keluarga, kelompok referensi, kelas sosial, demografi, dan
Ekonomi. (1) memodifikasi tingkah laku, (2) memberitahu, (3) membujuk, dan (4)mengingatkan.
Pengelola surat kabar harus terang
merumuskan bauran pemasaran yang tepat untuk memenangkan publik pembaca. Sebab,
perubahan besar dunia komunikasi informasi dan meningkatnya kaum terdidik, ikut andil dalam
mendongkrak tuntutan kualitas yang lebih baik.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 (Suara
Merdeka, 15 Maret 2007), penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11
persen, sedangkan tabloid/majalah sebesar 29,2 persen.
Untuk buku, ternyata jenis fiksi lebih digemari, yaitu sebesar 44,28 persen. Untuk nonfiksi,
sebesar 21,07 persen. Data BPS tahun 2006 juga menunjukkan, masyarakat lebih memilih
televisi sebagai sumber informasi, sebesar 85,9 persen. Sedangkan yang dari membaca, hanya
23,5 persen.

DAFTAR PUSTAKA
Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Engel, James F. , Roger D Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen, Jilid I Edisi 6 (alih bahasa: Drs. FX Budiyanto). Jakarta: Binarupa Aksara.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran, Jilid 1 Edisi 9 (Alih Bahasa: Hendra Teguh dan Rony A. Rusli). Jakarta: Prenhallindo.
Kotler, Philip dan Amstrong. 2004. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid I Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Swastha, Basu. Dan T. Hani Handoko. 1987. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Liberty.
Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.
READ MORE - Pengaruh Promosi dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Harian Umum SOLOPOS di Kota Surakarta

Selasa, 19 Oktober 2010

ANALISIS FAKTOR PERSEPSI YANG MEMENGARUHI MINAT KONSUMEN UNTUK BERBELANJA PADA GIANT HYPERMARKET BEKASI


PENDAHULUAN
Pasar modern (ritel) yang berkembang sekarang ini memberikan banyak alternatif  pada konsumen sebagai tempat untuk berbelanja. Alternatif yang begitu banyak menyebabkan pasar modern (ritel) harus memperhatikan berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah faktor persepsi konsumen yang memengaruhi perilaku konsumen untuk mengambil keputusan memilih tempat berbelanja yang menurut mereka yang terbaik, dan keputusan yang dibuat oleh konsumen akan menentukan kesuksesan sebuah pasar modern (ritel).


Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler  (2000), pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan (Saladin, 2003). Secara umum, pengertian pemasaran adalah kegiatan pemasaran untuk menjalankan bisnis guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang dan atau jasa, menetapkan harga, mendistribusikan, serta mempromosikannya melalui proses pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan.


Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler
dan Armstrong (2000) pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian
dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara
pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan ( Planing ), pengorganisasian ( Organizing ),
penggerakan ( Actuating ), dan pengawasan ( Controling ) Jadi dapat diartikan bahwa
manajemen pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian
program yang dirancang untuk menciptakan, membangun  dan mempertahankan pertukaran
yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan–tujuan
organisasi.



Perilaku konsumen
Menurut Engel yang disitasi oleh Priyono (2006), perilaku konsumen adalah tindakan yang
langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa,
termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Dari Definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku konsumen menyoroti perilaku baik individu maupun
rumah tangga, perilaku konsumen menyangkut suatu proses pengambilan keputusan sebelum
pembelian sampai dengan mengkonsumsi produk, dan tujuan mempelajari perilaku konsumen
adalah untuk menyusun strategi pemasaran yang berhasil.


Persepsi Konsumen
Persepsi menurut Rakhmat Jalaludin (1998), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Proses persepsi bukan hanya proses psikologi semata, tetapi diawali dengan proses fisiologis
yang dikenal sebagai sensasi.

Pengertian Ritel
Menurut Christina Whidya Utami (2006), ritel berasal dari bahasa Prancis (ritellier ) yang berarti
memotong atau memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran dapat dipahami sebagai semua
kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir
untuk penggunaan pribadi. Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai
produk, jasa, atau keduanya kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun
bersama.

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Belanja
Keputusan belanja dipengaruhi oleh kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta berbagai
faktor dalam lingkungan sosial pelanggan  (Christina Whidya Utami, 2006).

•  Faktor External
Faktor external yang memengaruhi keputusan belanja antara lain:
a.  Keluarga
Banyak keputusan belanja dibuat untuk produk yang dikonsumsi oleh keluarga  secara
keseluruhan. Ritel harus memahami bagaimana suatu keluarga membuat keputusan belanja dan
bagaimana anggota keluarga lainnya memengaruhi keputusan ini.

b.  Kelompok yang dijadikan acuan
Kelompok yang dijadikan acuan satu atau lebih orang-orang yang digunakan seseorang sebagai
dasar perbandingan untuk kepercayaan, perasaan, dan perilaku.

c.  Budaya
Budaya adalah faktor yang mendasar dalam pembentukan norma-norma yang dimiliki seseorang
yang kemudian membentuk atau mendorong keinginan dan perilakunya menjadi seorang
konsumen. Budaya dalam hal ini meliputi hal-hal yang dapat dipelajari dari keluarga, tetangga,
teman, guru maupun tokoh masyarakat.

•  Faktor Internal
Faktor pribadi atau internal di dalam diri seseorang yang memengaruhi keputusan belanja
Antara Lain :
a.  Aspek pribadi
Seorang pelanggan akan mempunyai perbedaan dengan pelanggan yang lain karena factor
faktor pribadi yang berbeda misalnya, tahapan usia, kondisi keuangan, gaya hidup, kepribadian,
dan konsep diri.
b.  Aspek psikologis
Faktor psikologi yang memengaruhi seseorang dalam tindakan membeli suatu barang atau jasa
didasarkan pada motivasi, persepsi, kepercayaan, dan perilaku serta proses belajar yang dilalui
konsumen.

Proses Belanja Pelanggan
a.  Pengenalan kebutuhan
b.  Pencarian informasi
c.  Evaluasi atas berbagai alternatif
d.  Menentukan pilihan
e.  Transaksi belanja
f.  Evaluasi belanja


METODE PENELITIAN
Data penelitian merupakan data primer. Data dikumpulkan menggunakan instrument penelitian
kuesioner. Kuesioner dikembangkan untuk mengukur faktor persepsi konsumen yang diteliti
terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu
digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas kuesioner. Variabel yang diteliti yaitu lokasi,
harga, kelengkapan produk, kualitas produk, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi.

PEMBAHASAN

Populasi penelitian adalah pengunjung Giant Hypermarket Bekasi. Penelitian dilakukan terhadap
100 responden. Berikut adalah gambaran umum responden berdasarkan umur, jenis kelamin,
status, pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan.


Uji Validitas dan Reliabilitas
Tabel 2. Uji Validitas


Butir pernyataan   Corrected Item-Total Correlation       Corrected> r-tabel  Keterangan
PA1  0,415  0,415 > 0,244  Valid
PA2  0,858  0,858 > 0,244  Valid
PA3  0,820  0,820 > 0,244  Valid
PA4  0,838  0,838 > 0,244  Valid
PA5  0,839  0,839 > 0,244  Valid
PA6  0,594  0,594 > 0,244  Valid
PB1  0,772  0,772 > 0,244  Valid
PB2  0,831  0,831 > 0,244  Valid
PB3  0,856  0,856 > 0,244  Valid
PC1  0,874  0,874 > 0,244  Valid
PC2  0,835  0,835 > 0,244  Valid
PC3  0,878  0,878 > 0,244  Valid
PD1  0,680  0,680 > 0,244  Valid
PD2  0,667  0,667 > 0,244  Valid
PD3  0,595  0,595 > 0,244  Valid
PE1  0,681  0,681 > 0,244  Valid
PE2  0,884  0,884 > 0,244  Valid
PE3  0,818  0,818 > 0,244  Valid
PE4  0,847  0,847 > 0,244  Valid
PE5  0,926  0,926 > 0,244  Valid
PE6  0,721  0,721 > 0,244  Valid
PE7  0,589  0,589 > 0,244  Valid
PF1  0,849  0,849 > 0,244  Valid
PF2  0,857  0,857 > 0,244  Valid
PF3  0,878  0,878 > 0,244  Valid
PF4  0,843  0,843 > 0,244  Valid
PF5  0,935  0,935 > 0,244  Valid
PG1  -0,172  -0.172 < 0,244  Tidak Valid
PG2  0,742  0,742 > 0,244  Valid
PG3  0,818  0,818 > 0,244  Valid
PG4  0,898  0,898 > 0,244  Valid
PG5  0,001  0,001 < 0,244  Tidak Valid
PG6  0,515  0,515 > 0,244  Valid
PH1  0,874  0,874 > 0,244  Valid
PH2  0,811  0,811 > 0,244  Valid
PH3  0,888  0,888 > 0,244  Valid
PH4  0,871  0,871 > 0,244  Valid

Dari tabel 2 uji validitas dapat diketahui bahwa dari 37 butir pernyataan untuk semua variable
yang diuji, 35 dinyatakan valid dan 2 variabel yang tidak valid.


Tabel 3. Uji Reliabilitas


Cronbach's Alpha  N of Items
0,97637
Output SPSS tersebut menunjukan table reliability statistic , yang terlihat sebagai Cronbach
Alpha adalah 0,976 > 0,6, reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik apabila Cronbach
Alpha > 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruk pernyataan dari seluruh variable adalah
reliabel.


Analisis Regresi Linear Berganda
Dengan menggunakan program komputer SPSS, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4. Hasil ANOVA
Model            Sum Of Squares                  Df        Mean Square          F  Sig.
Regression    227,592 7 32,513 204,065 0,000

Residual        14,658 92 0,159
Total  242,250 99
Dari tabel 4 didapat F hitung sebesar 204,065 dengan tingkat signifikasi 0,000. Karena nilai
signifikansinya < 0,05 maka promosi, harga, kelengkapan produk, lokasi, kenyamanan
berbelanja, kualitas produk dan pelayanan secara bersama– sama berpengaruh terhadap minat
konsumen untuk berbelanja.


Tabel 5. Hasil Regresi Berganda

Unstandardized Coefficients    Standardized Coefficients        t  Sig.
Std. Error                                           Beta
0,144  0,470                          0,306 0,760
0,095  0,042  0,145 2,259 0,026
0,253  0,086  0,198 2,944 0,004
0,348  0,126  0,258 2,769 0,007
0,199  0,054  0,141 3,661 0,000
0,023  0,056  0,042 0,412 0,681
0,064  0,057  0,083 1,114 0,268
0,805  0,077  0,738 10,404 0,000
Berdasarkan tabel tersebut didapat persamaan regresi sebagai berikut.
Y = 0,144 + 0,095X1 + 0,253X2 + 0,348X3 + 0,199X4 + 0,023X5 + 0,064X6 + 0,805X7

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variable lokasi (X1),
kelengkapan produk (X2), kualitas produk (X3), harga (X4), pelayanan (X5), kenyamanan
berbalanja (X6) dan promosi (X7) terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Dari tabel 5 hasil
regresi linear berganda, diperoleh hasil bahwa lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk,
harga dan promosi secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap minat konsumen
untuk berbelanja, hal ini dapat dilihat pada hasil signifikannya yang lebih kecil dari 0,05.
Sedangkan variabel pelayanan dan kenyamanan berbelanja tidak berpengaruh terhadap minat
konsumen untuk berbelanja, hal ini terlihat dari hasil signifikannya yang lebih besar dari 0,05.

Tabel 6. Persentase Kontribusi Parsial


 
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari ketujuh variabel, ternyata variabel promosi memiliki
persentase kontribusi terbesar terhadap minat konsumen untuk berbelanja yaitu sebesar
39,592%. Artinya adalah bahwa variabel yang paling dominan terhadap minat konsumen untuk
berbelanja adalah promosi.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa  secara bersama-sama variabel lokasi, kelengkapan
produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi berpengaruh
terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Variabel lokasi, kelengkapan produk, kualitas
produk, harga dan promosi berpengaruh secara signifikan terhadap minat konsumen untuk
berbelanja, sedangkan variabel pelayanan dan kenyamanan berbelanja tidak berpengaruh
terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Sedangkan variabel yang paling dominan terhadap
minat konsumen untuk berbelanja adalah promosi. Tentunya hal ini memberikan implikasi
manajerial yang penting pada pihak manajemen bisnis eceran untuk mengetahui faktor-faktor
apa saja yang dapat memengaruhi minat konsumen untuk berbelanja. Diharapkan bagi peneliti
selanjutnya agar memperbanyak variabel atau menambah jumlah responden agar hasil
penelitian lebih akurat, serta membandingkan dua atau lebih ritel yang diteliti agar
tampak ritel mana yang paling diminati dan dari segi apa konsumen lebih meminati ritel
tersebut. Untuk variabel pelayanan dan kenyaman tempat berbelanja sebaiknya tidak digunakan
untuk melakukan penelitian karena kedua variable tersebut tidak memengaruhi minat
konsumen untuk berbelanja, kecuali jika peneliti ingin membandingkan dua atau lebih objek
penelitian.

READ MORE - ANALISIS FAKTOR PERSEPSI YANG MEMENGARUHI MINAT KONSUMEN UNTUK BERBELANJA PADA GIANT HYPERMARKET BEKASI

Rabu, 06 Oktober 2010

Analisa Perilaku Pembaca Surat Kabar Terhadap Jenis Berita dan Ruang Iklan di Surat Kabar


“Analisa Perilaku Pembaca Surat Kabar Terhadap Jenis Berita dan Ruang Iklan di Surat Kabar”
Studi Kasus : Surat Kabar Pikiran Rakyat


Latar belakang
Pada masa era globalisasi, masyarakat telah disediakan banyak pilihan didalam mencari
informasi berita ataupun iklan, bisa melalui media cetak maupun elektronik. Walaupun saat ini
internet memiliki keunggulan luas dalam penyebaran berita dan real time ke seluruh dunia,
namun media cetak (surat kabar) pada kenyataannya masih memiliki daya tarik yang cukup kuat
bagi masyarakat diseluruh dunia. Hal ini menandakan bahwa masyarakat masih menyukai
bentuk komunikasi yang seperti ini (konfensional), oleh
karenanya para produsen yang hendak menyampaikan ”informasi” berita maupun iklan kepada
masyarakat luas, berlomba-lomba memperebutkan halaman yang strategis pada setiap surat
kabar diseluruh dunia. Karena pada prinsipnya pada masing-masing halaman di suratkabar
tersebut, memiliki keutamaan atau daya tarik yang berbeda-beda, tentunya
tarif pemasangannyapun berbeda pula.
Dalam hal ini ada tiga pihak yang saling berkaitan diantanya:
1). Pihak surat kabar sebagai pemilik media penyedia ruang iklan
2). Pihak pemasang iklan sumber informasi (Perusahaan/individu)
3). Pihak pembaca surat kabar (sebagai penerima informasi)

Surat Kabar Pikiran Rakyat
Pikiran Rakyat (PR) berdiri sejak tahun 1966 hingga kini terus berkembang menjadi surat kabar terkuat di Jawa Barat dengan slogan ” Korannya orang Jawa Barat ” telah berhasil membawa image masyarakat Jawa Barat dalam cerminan isi berita maupun bentuk penampilan nya. Selain itu Pikiran Rakyat telah berhasil pula memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat akan informasi di lingkungan kehidupannya, baik yang ditampilkan dalam bentuk berita umum maupun sajian promosi/iklan dari berbagai produk yang diperlukan masyarakat.

Jenis Halaman Iklan Pada Surat Kabar Pikiran Rakyat
Surat Kabar Pikiran Rakyat  memiliki dua jenis halaman iklan yaitu:
1.      Iklan pada halaman”Biasa”(Display), bersifat exclusive berukuran bebas minimal seperempat halaman maksimal dua halaman penuh.
2.      Iklan pada halaman”Khusus-Iklan” iklan mini-baris ukuran kolomnya kecil 8x3cm, dengan display tulisan 2-3 baris dan sedikit gambar.

Berdasar pada permasalahan tersebut selanjutnya akan dilakukan penelitian secara mendalam untuk mengetahui :

•  Bagaimana perilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat ketika mereka membaca surat kabar tersebut
•  Sejauhmana informasi berita dan iklan yang diditampilkan surat kabar Pikiran Rakyat  dapat difahami dan diingat oleh pembacanya.
•  Rubrik apa yang paling sering dibaca dan diperhatikan oleh pembaca   Pikiran Rakyat serta berapa lama mereka membaca setiap rubrik yang ada di surat kabar Pikiran Rakyat tersebut.

Research Objective
Untuk mengetahui Prilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat ini dilakukan
1)   Exploratory Research,
2)   Focus Group Discussion dan
3)   penyebaran kuesioner
terhadap konsumen surat kabar Pikiran Rakyat yang bertujuan untuk:
1.     Mengetahui perilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat di daerah
Kota Bandung dan sekitarnya ketika mereka membaca surat kabar.
2.  Mengetahui ”topik” apa saja yang paling lama dibaca (disukai) dan     jenis iklan yang seperti apakah yang mendapatkan perhatian lebih dari para pembaca surat kabar Pikiran Rakyat, agar dapat membantu pihak Pikiran Rakyat dalam penetapan harga iklan di Pikiran Rakyat dan image dari iklan yang terdapat di setiap halaman
3.  Membantu memberikan gambaran baru bagi para pemasangan iklan di surat kabar Pikiran Rakyat dalam  memilih ruang/halaman yang banyak dilihat Pembacanya.

Exploratory Research
Jenis penelitian yang dilakukan adalah ”ExploratoryResearch” yaitu penelitian yang dilakukan untuk melihat permasalahan yang terjadi selama ini dilapangan yang difokuskan pada prilaku pembaca koran Pikiran Rakyat di Bandung. Pengamatan dilakukan diwilayah kampus Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, UNISBA dan UNIKOM,  juga dilakukan di kantor Pikiran Rakyat.

Pelanggan Surat Kabar Pikiran Rakyat Sebagai Informan
Mengingat luasnya pokok pembahasan perilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat, dalam penelitian ini hanya akan mengambil sampel dari pelanggan tetap surat kabar Pikiran Rakyat dengan variasi usia pembaca (responden) antara 20 tahun hingga 55 tahun. Berdomisili di daerah Kotamadya Bandung dan telah berlangganan surat kabar Pikiran Rakyat lebih dari satu tahun, maksudnya agar dapat diasumsikan bahwa pernyataan atau opini yang mereka sampaikan secara utuh dapat dipertanggung-jawabkan.


Temuan
Lima dari delapan responden yang diwawancara memiliki perilaku yang sama terhadap surat kabar Pikiran Rakyat, yaitu membaca berdasarkan halaman paling depan sampai halaman paling belakang, dengan rata-rata waktu membaca koran sekitar 15-30 menit.

Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah performance desain tata letak surat kabar Pikiran Rakyat saat ini, dinilai responden sudah bagus. Alur topik antar halamannya memudahkan pembaca untuk mencari berita dan iklan.
Ada tiga gaya perilaku pembaca (responden) dalam membaca surat kabar Pikiran Rakyat :
1). Membaca secara berurutan dari halaman depan kebelakang.
2). Membaca surat kabar dari halaman belakang  kemudian ke halaman depan.
3). Membaca dari halaman iklan ke berita.
Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut adalah:
“Kebutuhan dan Motivasi” dari masing-masing orang pada situasi yang berbeda-beda, akan melakukan tindakan yang berbeda pula.
     Suasana ruang, waktu dan tingkat kepentingan “Urgency ”(tinggi-rendah) akan menentukan tindakan pembaca didalam mencari topic atau halaman yang dimaksud. Dilain pihak bagi para pemasang iklan, perlu lebih cermat mengetahui kecenderungan prilaku pembaca surat kabar dalam mencari informasi berita. Pembaca akan menyerap informasi iklan yang diterbitkan surat kabar Pikiran Rakyat secara selektif disesuaikan berdasar pada keperluannya dan bila informasi yang ditemukannya menjadi penting ada kecenderungan mereka akan menyimpan iklan yang mereka butuhkan-butuhkannya Tersebut.
READ MORE - Analisa Perilaku Pembaca Surat Kabar Terhadap Jenis Berita dan Ruang Iklan di Surat Kabar

Sabtu, 02 Oktober 2010

Berinvestasi dalam Reksadana

Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.
Manajemen investasi adalah manajemen profesional yang mengelola beragam sekuritas atau surat berharga seperti saham, obligasi dan aset lainnya seperti properti dengan tujuan untuk mencapai target investasi yang menguntungkan bagi investor.
Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.”
Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:
  1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
  2. Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi; dan
  3. Manajer Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor.
Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam "Nilai Aktiva Bersih" (NAB) reksadana tersebut.
Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur.
Berikut ini adalah jenis reksa dana dan penjelasannya:
  • Reksa Dana Konvensional (Biasa)
Reksa Dana Konvensional (Biasa) adalah reksa dana yang dapat dibeli atau dijual kembali oleh investor setiap saat tergantung tujuan investasi, jangka waktu dan profil risiko investor.
Jenis-jenis Reksa Dana Konvensional (Biasa) adalah sebagai berikut:
    • Reksa Dana Pasar Uang
Reksa Dana yang hanya melakukan investasi pada Efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun.

    • Reksa Dana Pendapatan Tetap
Reksa Dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh perseratus) dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat utang.
    • Reksa Dana Saham
Reksa Dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh perseratus) dari aktivanya dalam Efek bersifat Ekuitas.
    • Reksa Dana Campuran
Reksa Dana yang melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat utang yang perbandingannya tidak termasuk dalam Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Saham.
  • Reksa Dana Terstruktur
Reksa Dana Terstruktur adalah reksa dana yang hanya dapat dibeli atau dijual kembali oleh investor pada saat tertentu saja yang ditentukan oleh Manajer Investasi.
Jenis-jenis Reksa Dana Terstruktur adalah sebagai berikut:
    • Reksa Dana Terproteksi
Reksa Dana yang memberikan proteksi atas investasi awal investor melalui mekanisme pengelolaan portofolionya. Dalam rangka pemberian proteksi atas investasi awal tersebut, Manajer Investasi Reksa Dana Terproteksi akan menginvestasikan sebagian dana yang dikelolanya pada Efek bersifat utang yang masuk dalam kategori layak investasi (investment grade), sehingga nilai Efek bersifat utang pada saat jatuh tempo sekurang-kurangnya dapat menutupi jumlah nilai yang diproteksi.
    • Reksa Dana dengan Penjaminan
Reksa Dana yang memberikan jaminan bahwa investor sekurang-kurangnya akan menerima sebesar nilai investasi awal pada saat jatuh tempo sepanjang persyaratannya terpenuhi. Pemberian jaminan tersebut dilakukan melalui penunjukan Penjamin/Guarantor berupa lembaga yang dapat melakukan penjaminan dan telah memperoleh ijin usaha dari instansi yang berwenang.
    • Reksa Dana Indeks
Reksa Dana yang portofolio Efeknya terdiri atas Efek yang menjadi bagian dari sekumpulan Efek dari suatu indeks yang menjadi acuannya.
Sejarah Reksadana
Reksadana yang pertama kali bernama Massachusetts Investors Trust yang diterbitkan tanggal 21 Maret 1924, yang hanya dalam waktu setahun telah memiliki sebanyak 200 investor reksadana dengan total aset senilai US$ 392.000.
Pada tahun 1929 sewaktu bursa saham jatuh maka pertumbuhan industri reksadana ini menjadi melambat. Menanggapi jatuhnya bursa maka Kongres Amerika mengeluarkan Undang-undang Surat Berharga 1933 (Securities Act of 1933) dan Undang-undang Bursa Saham 1934 (Securities Exchange Act of 1934).
Berdasarkan peraturan tersebut maka reksadana wajib didaftarkan pada Securities and Exchange Commission atau biasa disebut SEC yaitu sebuah komisi di Amerika yang menangani perdagangan surat berharga dan pasar modal. Selain itu pula, penerbit reksadana wajib untuk menyediakan prospektus yang memuat informasi guna keterbukaan informasi reksadana, juga termasuk surat berharga yang menjadi objek kelolaan, informasi mengenai manajer investasi yang menerbitkan reksadana.
SEC juga terlibat dalam perancangan Undang-undang Perusahaan Investasi tahun 1940 yang menjadi acuan bagi ketentuan-ketentuan yang wajib dipenuhi untuk setiap pendaftaran reksadana hingga hari ini.
Dengan pulihnya kepercayaan pasar terhadap bursa saham, reksadana mulai tumbuh dan berkembang. Hingga akhir tahun 1960 diperkirakan telah ada sekitar 270 reksadana dengan dana kelolaan sebesar 48 triliun US Dollar.
Sejarah Reksadana Di Indonesia

Di Indonesia, reksa dana pertama kali muncul saat pemerintah mendirikan PT. Danareksa pada tahun 1976. Pada waktu itu  PT. Danareksa menerbitkan reksa dana yang disebut dengan sertifikat Danareksa. Pada tahun 1995, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pasar modal yang mencakup pula peraturan mengenai reksa dana melalui UU No. 8 tahun 1995 mengenai pasar modal. Adanya UU tersebut menjadi momentum munculnya reksa dana di Indonesia yang diawali dengan diterbitkannya reksa dana tertutup oleh PT. BDNI Reksa Dana.
Bentuk Hukum Reksadana
Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1), bentuk hukum Reksadana di Indonesia ada dua, yakni Reksadana berbentuk Perseroan Terbatas (PT. Reksa Dana) dan Reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).
Reksa Dana berbentuk Perseroan (PT. Reksa Dana)
suatu perusahaan (perseroan terbatas), yang dari sisi bentuk hukum tidak berbeda dengan perusahaan lainnya. Perbedaan terletak pada jenis usaha, yaitu jenis usaha pengelolaan portofolio investasi.
Kontrak Investasi Kolektif
kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor. Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio efek dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan administrasi investasi.

Manfaat Reksadana
Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:
  1. Dikelola oleh manajemen profesional
Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.
  1. Diversifikasi investasi
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.
  1. Transparansi informasi
Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.
  1. Likuiditas yang tinggi
Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.
  1. Biaya Rendah
Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.
 Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.
Risiko Investasi Reksa Dana
  • Konservatif (Risk Averse)
    • Berkeinginan untuk mempertahankan modal dan penghasilan saat ini;
    • Pertumbuhan investasi bukan merupakan tujuan;
    • Cenderung untuk menghindari risiko investasi;
    • Memilih instrumen investasi jangka pendek
  • Moderate
    • Berkeinginan untuk mendapatkan penghasilan saat ini;
    • Bertujuan pada pertumbuhan investasi;
    • Cukup toleransi terhadap risiko investasi;
    • Memilih instrumen investasi jangka menengah.
  • Agresif (Risk Lover)
    • Tidak berkeinginan untuk mendapatkan penghasilan saat ini;
    • Bertujuan pada pertumbuhan investasi yang pesat;
    • Toleransi yang tinggi terhadap risiko investasi;
    • Memilih instrumen investasi jangka panjang.
READ MORE - Berinvestasi dalam Reksadana