Pages

Selasa, 19 Oktober 2010

ANALISIS FAKTOR PERSEPSI YANG MEMENGARUHI MINAT KONSUMEN UNTUK BERBELANJA PADA GIANT HYPERMARKET BEKASI


PENDAHULUAN
Pasar modern (ritel) yang berkembang sekarang ini memberikan banyak alternatif  pada konsumen sebagai tempat untuk berbelanja. Alternatif yang begitu banyak menyebabkan pasar modern (ritel) harus memperhatikan berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah faktor persepsi konsumen yang memengaruhi perilaku konsumen untuk mengambil keputusan memilih tempat berbelanja yang menurut mereka yang terbaik, dan keputusan yang dibuat oleh konsumen akan menentukan kesuksesan sebuah pasar modern (ritel).


Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler  (2000), pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan (Saladin, 2003). Secara umum, pengertian pemasaran adalah kegiatan pemasaran untuk menjalankan bisnis guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang dan atau jasa, menetapkan harga, mendistribusikan, serta mempromosikannya melalui proses pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan.


Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler
dan Armstrong (2000) pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian
dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara
pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan ( Planing ), pengorganisasian ( Organizing ),
penggerakan ( Actuating ), dan pengawasan ( Controling ) Jadi dapat diartikan bahwa
manajemen pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian
program yang dirancang untuk menciptakan, membangun  dan mempertahankan pertukaran
yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan–tujuan
organisasi.



Perilaku konsumen
Menurut Engel yang disitasi oleh Priyono (2006), perilaku konsumen adalah tindakan yang
langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa,
termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Dari Definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku konsumen menyoroti perilaku baik individu maupun
rumah tangga, perilaku konsumen menyangkut suatu proses pengambilan keputusan sebelum
pembelian sampai dengan mengkonsumsi produk, dan tujuan mempelajari perilaku konsumen
adalah untuk menyusun strategi pemasaran yang berhasil.


Persepsi Konsumen
Persepsi menurut Rakhmat Jalaludin (1998), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Proses persepsi bukan hanya proses psikologi semata, tetapi diawali dengan proses fisiologis
yang dikenal sebagai sensasi.

Pengertian Ritel
Menurut Christina Whidya Utami (2006), ritel berasal dari bahasa Prancis (ritellier ) yang berarti
memotong atau memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran dapat dipahami sebagai semua
kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir
untuk penggunaan pribadi. Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai
produk, jasa, atau keduanya kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun
bersama.

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Belanja
Keputusan belanja dipengaruhi oleh kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta berbagai
faktor dalam lingkungan sosial pelanggan  (Christina Whidya Utami, 2006).

•  Faktor External
Faktor external yang memengaruhi keputusan belanja antara lain:
a.  Keluarga
Banyak keputusan belanja dibuat untuk produk yang dikonsumsi oleh keluarga  secara
keseluruhan. Ritel harus memahami bagaimana suatu keluarga membuat keputusan belanja dan
bagaimana anggota keluarga lainnya memengaruhi keputusan ini.

b.  Kelompok yang dijadikan acuan
Kelompok yang dijadikan acuan satu atau lebih orang-orang yang digunakan seseorang sebagai
dasar perbandingan untuk kepercayaan, perasaan, dan perilaku.

c.  Budaya
Budaya adalah faktor yang mendasar dalam pembentukan norma-norma yang dimiliki seseorang
yang kemudian membentuk atau mendorong keinginan dan perilakunya menjadi seorang
konsumen. Budaya dalam hal ini meliputi hal-hal yang dapat dipelajari dari keluarga, tetangga,
teman, guru maupun tokoh masyarakat.

•  Faktor Internal
Faktor pribadi atau internal di dalam diri seseorang yang memengaruhi keputusan belanja
Antara Lain :
a.  Aspek pribadi
Seorang pelanggan akan mempunyai perbedaan dengan pelanggan yang lain karena factor
faktor pribadi yang berbeda misalnya, tahapan usia, kondisi keuangan, gaya hidup, kepribadian,
dan konsep diri.
b.  Aspek psikologis
Faktor psikologi yang memengaruhi seseorang dalam tindakan membeli suatu barang atau jasa
didasarkan pada motivasi, persepsi, kepercayaan, dan perilaku serta proses belajar yang dilalui
konsumen.

Proses Belanja Pelanggan
a.  Pengenalan kebutuhan
b.  Pencarian informasi
c.  Evaluasi atas berbagai alternatif
d.  Menentukan pilihan
e.  Transaksi belanja
f.  Evaluasi belanja


METODE PENELITIAN
Data penelitian merupakan data primer. Data dikumpulkan menggunakan instrument penelitian
kuesioner. Kuesioner dikembangkan untuk mengukur faktor persepsi konsumen yang diteliti
terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu
digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas kuesioner. Variabel yang diteliti yaitu lokasi,
harga, kelengkapan produk, kualitas produk, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi.

PEMBAHASAN

Populasi penelitian adalah pengunjung Giant Hypermarket Bekasi. Penelitian dilakukan terhadap
100 responden. Berikut adalah gambaran umum responden berdasarkan umur, jenis kelamin,
status, pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan.


Uji Validitas dan Reliabilitas
Tabel 2. Uji Validitas


Butir pernyataan   Corrected Item-Total Correlation       Corrected> r-tabel  Keterangan
PA1  0,415  0,415 > 0,244  Valid
PA2  0,858  0,858 > 0,244  Valid
PA3  0,820  0,820 > 0,244  Valid
PA4  0,838  0,838 > 0,244  Valid
PA5  0,839  0,839 > 0,244  Valid
PA6  0,594  0,594 > 0,244  Valid
PB1  0,772  0,772 > 0,244  Valid
PB2  0,831  0,831 > 0,244  Valid
PB3  0,856  0,856 > 0,244  Valid
PC1  0,874  0,874 > 0,244  Valid
PC2  0,835  0,835 > 0,244  Valid
PC3  0,878  0,878 > 0,244  Valid
PD1  0,680  0,680 > 0,244  Valid
PD2  0,667  0,667 > 0,244  Valid
PD3  0,595  0,595 > 0,244  Valid
PE1  0,681  0,681 > 0,244  Valid
PE2  0,884  0,884 > 0,244  Valid
PE3  0,818  0,818 > 0,244  Valid
PE4  0,847  0,847 > 0,244  Valid
PE5  0,926  0,926 > 0,244  Valid
PE6  0,721  0,721 > 0,244  Valid
PE7  0,589  0,589 > 0,244  Valid
PF1  0,849  0,849 > 0,244  Valid
PF2  0,857  0,857 > 0,244  Valid
PF3  0,878  0,878 > 0,244  Valid
PF4  0,843  0,843 > 0,244  Valid
PF5  0,935  0,935 > 0,244  Valid
PG1  -0,172  -0.172 < 0,244  Tidak Valid
PG2  0,742  0,742 > 0,244  Valid
PG3  0,818  0,818 > 0,244  Valid
PG4  0,898  0,898 > 0,244  Valid
PG5  0,001  0,001 < 0,244  Tidak Valid
PG6  0,515  0,515 > 0,244  Valid
PH1  0,874  0,874 > 0,244  Valid
PH2  0,811  0,811 > 0,244  Valid
PH3  0,888  0,888 > 0,244  Valid
PH4  0,871  0,871 > 0,244  Valid

Dari tabel 2 uji validitas dapat diketahui bahwa dari 37 butir pernyataan untuk semua variable
yang diuji, 35 dinyatakan valid dan 2 variabel yang tidak valid.


Tabel 3. Uji Reliabilitas


Cronbach's Alpha  N of Items
0,97637
Output SPSS tersebut menunjukan table reliability statistic , yang terlihat sebagai Cronbach
Alpha adalah 0,976 > 0,6, reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik apabila Cronbach
Alpha > 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruk pernyataan dari seluruh variable adalah
reliabel.


Analisis Regresi Linear Berganda
Dengan menggunakan program komputer SPSS, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4. Hasil ANOVA
Model            Sum Of Squares                  Df        Mean Square          F  Sig.
Regression    227,592 7 32,513 204,065 0,000

Residual        14,658 92 0,159
Total  242,250 99
Dari tabel 4 didapat F hitung sebesar 204,065 dengan tingkat signifikasi 0,000. Karena nilai
signifikansinya < 0,05 maka promosi, harga, kelengkapan produk, lokasi, kenyamanan
berbelanja, kualitas produk dan pelayanan secara bersama– sama berpengaruh terhadap minat
konsumen untuk berbelanja.


Tabel 5. Hasil Regresi Berganda

Unstandardized Coefficients    Standardized Coefficients        t  Sig.
Std. Error                                           Beta
0,144  0,470                          0,306 0,760
0,095  0,042  0,145 2,259 0,026
0,253  0,086  0,198 2,944 0,004
0,348  0,126  0,258 2,769 0,007
0,199  0,054  0,141 3,661 0,000
0,023  0,056  0,042 0,412 0,681
0,064  0,057  0,083 1,114 0,268
0,805  0,077  0,738 10,404 0,000
Berdasarkan tabel tersebut didapat persamaan regresi sebagai berikut.
Y = 0,144 + 0,095X1 + 0,253X2 + 0,348X3 + 0,199X4 + 0,023X5 + 0,064X6 + 0,805X7

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variable lokasi (X1),
kelengkapan produk (X2), kualitas produk (X3), harga (X4), pelayanan (X5), kenyamanan
berbalanja (X6) dan promosi (X7) terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Dari tabel 5 hasil
regresi linear berganda, diperoleh hasil bahwa lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk,
harga dan promosi secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap minat konsumen
untuk berbelanja, hal ini dapat dilihat pada hasil signifikannya yang lebih kecil dari 0,05.
Sedangkan variabel pelayanan dan kenyamanan berbelanja tidak berpengaruh terhadap minat
konsumen untuk berbelanja, hal ini terlihat dari hasil signifikannya yang lebih besar dari 0,05.

Tabel 6. Persentase Kontribusi Parsial


 
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari ketujuh variabel, ternyata variabel promosi memiliki
persentase kontribusi terbesar terhadap minat konsumen untuk berbelanja yaitu sebesar
39,592%. Artinya adalah bahwa variabel yang paling dominan terhadap minat konsumen untuk
berbelanja adalah promosi.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa  secara bersama-sama variabel lokasi, kelengkapan
produk, kualitas produk, harga, pelayanan, kenyamanan berbelanja dan promosi berpengaruh
terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Variabel lokasi, kelengkapan produk, kualitas
produk, harga dan promosi berpengaruh secara signifikan terhadap minat konsumen untuk
berbelanja, sedangkan variabel pelayanan dan kenyamanan berbelanja tidak berpengaruh
terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Sedangkan variabel yang paling dominan terhadap
minat konsumen untuk berbelanja adalah promosi. Tentunya hal ini memberikan implikasi
manajerial yang penting pada pihak manajemen bisnis eceran untuk mengetahui faktor-faktor
apa saja yang dapat memengaruhi minat konsumen untuk berbelanja. Diharapkan bagi peneliti
selanjutnya agar memperbanyak variabel atau menambah jumlah responden agar hasil
penelitian lebih akurat, serta membandingkan dua atau lebih ritel yang diteliti agar
tampak ritel mana yang paling diminati dan dari segi apa konsumen lebih meminati ritel
tersebut. Untuk variabel pelayanan dan kenyaman tempat berbelanja sebaiknya tidak digunakan
untuk melakukan penelitian karena kedua variable tersebut tidak memengaruhi minat
konsumen untuk berbelanja, kecuali jika peneliti ingin membandingkan dua atau lebih objek
penelitian.

READ MORE - ANALISIS FAKTOR PERSEPSI YANG MEMENGARUHI MINAT KONSUMEN UNTUK BERBELANJA PADA GIANT HYPERMARKET BEKASI

Rabu, 06 Oktober 2010

Analisa Perilaku Pembaca Surat Kabar Terhadap Jenis Berita dan Ruang Iklan di Surat Kabar


“Analisa Perilaku Pembaca Surat Kabar Terhadap Jenis Berita dan Ruang Iklan di Surat Kabar”
Studi Kasus : Surat Kabar Pikiran Rakyat


Latar belakang
Pada masa era globalisasi, masyarakat telah disediakan banyak pilihan didalam mencari
informasi berita ataupun iklan, bisa melalui media cetak maupun elektronik. Walaupun saat ini
internet memiliki keunggulan luas dalam penyebaran berita dan real time ke seluruh dunia,
namun media cetak (surat kabar) pada kenyataannya masih memiliki daya tarik yang cukup kuat
bagi masyarakat diseluruh dunia. Hal ini menandakan bahwa masyarakat masih menyukai
bentuk komunikasi yang seperti ini (konfensional), oleh
karenanya para produsen yang hendak menyampaikan ”informasi” berita maupun iklan kepada
masyarakat luas, berlomba-lomba memperebutkan halaman yang strategis pada setiap surat
kabar diseluruh dunia. Karena pada prinsipnya pada masing-masing halaman di suratkabar
tersebut, memiliki keutamaan atau daya tarik yang berbeda-beda, tentunya
tarif pemasangannyapun berbeda pula.
Dalam hal ini ada tiga pihak yang saling berkaitan diantanya:
1). Pihak surat kabar sebagai pemilik media penyedia ruang iklan
2). Pihak pemasang iklan sumber informasi (Perusahaan/individu)
3). Pihak pembaca surat kabar (sebagai penerima informasi)

Surat Kabar Pikiran Rakyat
Pikiran Rakyat (PR) berdiri sejak tahun 1966 hingga kini terus berkembang menjadi surat kabar terkuat di Jawa Barat dengan slogan ” Korannya orang Jawa Barat ” telah berhasil membawa image masyarakat Jawa Barat dalam cerminan isi berita maupun bentuk penampilan nya. Selain itu Pikiran Rakyat telah berhasil pula memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat akan informasi di lingkungan kehidupannya, baik yang ditampilkan dalam bentuk berita umum maupun sajian promosi/iklan dari berbagai produk yang diperlukan masyarakat.

Jenis Halaman Iklan Pada Surat Kabar Pikiran Rakyat
Surat Kabar Pikiran Rakyat  memiliki dua jenis halaman iklan yaitu:
1.      Iklan pada halaman”Biasa”(Display), bersifat exclusive berukuran bebas minimal seperempat halaman maksimal dua halaman penuh.
2.      Iklan pada halaman”Khusus-Iklan” iklan mini-baris ukuran kolomnya kecil 8x3cm, dengan display tulisan 2-3 baris dan sedikit gambar.

Berdasar pada permasalahan tersebut selanjutnya akan dilakukan penelitian secara mendalam untuk mengetahui :

•  Bagaimana perilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat ketika mereka membaca surat kabar tersebut
•  Sejauhmana informasi berita dan iklan yang diditampilkan surat kabar Pikiran Rakyat  dapat difahami dan diingat oleh pembacanya.
•  Rubrik apa yang paling sering dibaca dan diperhatikan oleh pembaca   Pikiran Rakyat serta berapa lama mereka membaca setiap rubrik yang ada di surat kabar Pikiran Rakyat tersebut.

Research Objective
Untuk mengetahui Prilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat ini dilakukan
1)   Exploratory Research,
2)   Focus Group Discussion dan
3)   penyebaran kuesioner
terhadap konsumen surat kabar Pikiran Rakyat yang bertujuan untuk:
1.     Mengetahui perilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat di daerah
Kota Bandung dan sekitarnya ketika mereka membaca surat kabar.
2.  Mengetahui ”topik” apa saja yang paling lama dibaca (disukai) dan     jenis iklan yang seperti apakah yang mendapatkan perhatian lebih dari para pembaca surat kabar Pikiran Rakyat, agar dapat membantu pihak Pikiran Rakyat dalam penetapan harga iklan di Pikiran Rakyat dan image dari iklan yang terdapat di setiap halaman
3.  Membantu memberikan gambaran baru bagi para pemasangan iklan di surat kabar Pikiran Rakyat dalam  memilih ruang/halaman yang banyak dilihat Pembacanya.

Exploratory Research
Jenis penelitian yang dilakukan adalah ”ExploratoryResearch” yaitu penelitian yang dilakukan untuk melihat permasalahan yang terjadi selama ini dilapangan yang difokuskan pada prilaku pembaca koran Pikiran Rakyat di Bandung. Pengamatan dilakukan diwilayah kampus Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, UNISBA dan UNIKOM,  juga dilakukan di kantor Pikiran Rakyat.

Pelanggan Surat Kabar Pikiran Rakyat Sebagai Informan
Mengingat luasnya pokok pembahasan perilaku pembaca surat kabar Pikiran Rakyat, dalam penelitian ini hanya akan mengambil sampel dari pelanggan tetap surat kabar Pikiran Rakyat dengan variasi usia pembaca (responden) antara 20 tahun hingga 55 tahun. Berdomisili di daerah Kotamadya Bandung dan telah berlangganan surat kabar Pikiran Rakyat lebih dari satu tahun, maksudnya agar dapat diasumsikan bahwa pernyataan atau opini yang mereka sampaikan secara utuh dapat dipertanggung-jawabkan.


Temuan
Lima dari delapan responden yang diwawancara memiliki perilaku yang sama terhadap surat kabar Pikiran Rakyat, yaitu membaca berdasarkan halaman paling depan sampai halaman paling belakang, dengan rata-rata waktu membaca koran sekitar 15-30 menit.

Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah performance desain tata letak surat kabar Pikiran Rakyat saat ini, dinilai responden sudah bagus. Alur topik antar halamannya memudahkan pembaca untuk mencari berita dan iklan.
Ada tiga gaya perilaku pembaca (responden) dalam membaca surat kabar Pikiran Rakyat :
1). Membaca secara berurutan dari halaman depan kebelakang.
2). Membaca surat kabar dari halaman belakang  kemudian ke halaman depan.
3). Membaca dari halaman iklan ke berita.
Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut adalah:
“Kebutuhan dan Motivasi” dari masing-masing orang pada situasi yang berbeda-beda, akan melakukan tindakan yang berbeda pula.
     Suasana ruang, waktu dan tingkat kepentingan “Urgency ”(tinggi-rendah) akan menentukan tindakan pembaca didalam mencari topic atau halaman yang dimaksud. Dilain pihak bagi para pemasang iklan, perlu lebih cermat mengetahui kecenderungan prilaku pembaca surat kabar dalam mencari informasi berita. Pembaca akan menyerap informasi iklan yang diterbitkan surat kabar Pikiran Rakyat secara selektif disesuaikan berdasar pada keperluannya dan bila informasi yang ditemukannya menjadi penting ada kecenderungan mereka akan menyimpan iklan yang mereka butuhkan-butuhkannya Tersebut.
READ MORE - Analisa Perilaku Pembaca Surat Kabar Terhadap Jenis Berita dan Ruang Iklan di Surat Kabar

Sabtu, 02 Oktober 2010

Berinvestasi dalam Reksadana

Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.
Manajemen investasi adalah manajemen profesional yang mengelola beragam sekuritas atau surat berharga seperti saham, obligasi dan aset lainnya seperti properti dengan tujuan untuk mencapai target investasi yang menguntungkan bagi investor.
Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.”
Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:
  1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
  2. Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi; dan
  3. Manajer Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor.
Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam "Nilai Aktiva Bersih" (NAB) reksadana tersebut.
Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur.
Berikut ini adalah jenis reksa dana dan penjelasannya:
  • Reksa Dana Konvensional (Biasa)
Reksa Dana Konvensional (Biasa) adalah reksa dana yang dapat dibeli atau dijual kembali oleh investor setiap saat tergantung tujuan investasi, jangka waktu dan profil risiko investor.
Jenis-jenis Reksa Dana Konvensional (Biasa) adalah sebagai berikut:
    • Reksa Dana Pasar Uang
Reksa Dana yang hanya melakukan investasi pada Efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun.

    • Reksa Dana Pendapatan Tetap
Reksa Dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh perseratus) dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat utang.
    • Reksa Dana Saham
Reksa Dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh perseratus) dari aktivanya dalam Efek bersifat Ekuitas.
    • Reksa Dana Campuran
Reksa Dana yang melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat utang yang perbandingannya tidak termasuk dalam Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Saham.
  • Reksa Dana Terstruktur
Reksa Dana Terstruktur adalah reksa dana yang hanya dapat dibeli atau dijual kembali oleh investor pada saat tertentu saja yang ditentukan oleh Manajer Investasi.
Jenis-jenis Reksa Dana Terstruktur adalah sebagai berikut:
    • Reksa Dana Terproteksi
Reksa Dana yang memberikan proteksi atas investasi awal investor melalui mekanisme pengelolaan portofolionya. Dalam rangka pemberian proteksi atas investasi awal tersebut, Manajer Investasi Reksa Dana Terproteksi akan menginvestasikan sebagian dana yang dikelolanya pada Efek bersifat utang yang masuk dalam kategori layak investasi (investment grade), sehingga nilai Efek bersifat utang pada saat jatuh tempo sekurang-kurangnya dapat menutupi jumlah nilai yang diproteksi.
    • Reksa Dana dengan Penjaminan
Reksa Dana yang memberikan jaminan bahwa investor sekurang-kurangnya akan menerima sebesar nilai investasi awal pada saat jatuh tempo sepanjang persyaratannya terpenuhi. Pemberian jaminan tersebut dilakukan melalui penunjukan Penjamin/Guarantor berupa lembaga yang dapat melakukan penjaminan dan telah memperoleh ijin usaha dari instansi yang berwenang.
    • Reksa Dana Indeks
Reksa Dana yang portofolio Efeknya terdiri atas Efek yang menjadi bagian dari sekumpulan Efek dari suatu indeks yang menjadi acuannya.
Sejarah Reksadana
Reksadana yang pertama kali bernama Massachusetts Investors Trust yang diterbitkan tanggal 21 Maret 1924, yang hanya dalam waktu setahun telah memiliki sebanyak 200 investor reksadana dengan total aset senilai US$ 392.000.
Pada tahun 1929 sewaktu bursa saham jatuh maka pertumbuhan industri reksadana ini menjadi melambat. Menanggapi jatuhnya bursa maka Kongres Amerika mengeluarkan Undang-undang Surat Berharga 1933 (Securities Act of 1933) dan Undang-undang Bursa Saham 1934 (Securities Exchange Act of 1934).
Berdasarkan peraturan tersebut maka reksadana wajib didaftarkan pada Securities and Exchange Commission atau biasa disebut SEC yaitu sebuah komisi di Amerika yang menangani perdagangan surat berharga dan pasar modal. Selain itu pula, penerbit reksadana wajib untuk menyediakan prospektus yang memuat informasi guna keterbukaan informasi reksadana, juga termasuk surat berharga yang menjadi objek kelolaan, informasi mengenai manajer investasi yang menerbitkan reksadana.
SEC juga terlibat dalam perancangan Undang-undang Perusahaan Investasi tahun 1940 yang menjadi acuan bagi ketentuan-ketentuan yang wajib dipenuhi untuk setiap pendaftaran reksadana hingga hari ini.
Dengan pulihnya kepercayaan pasar terhadap bursa saham, reksadana mulai tumbuh dan berkembang. Hingga akhir tahun 1960 diperkirakan telah ada sekitar 270 reksadana dengan dana kelolaan sebesar 48 triliun US Dollar.
Sejarah Reksadana Di Indonesia

Di Indonesia, reksa dana pertama kali muncul saat pemerintah mendirikan PT. Danareksa pada tahun 1976. Pada waktu itu  PT. Danareksa menerbitkan reksa dana yang disebut dengan sertifikat Danareksa. Pada tahun 1995, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pasar modal yang mencakup pula peraturan mengenai reksa dana melalui UU No. 8 tahun 1995 mengenai pasar modal. Adanya UU tersebut menjadi momentum munculnya reksa dana di Indonesia yang diawali dengan diterbitkannya reksa dana tertutup oleh PT. BDNI Reksa Dana.
Bentuk Hukum Reksadana
Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1), bentuk hukum Reksadana di Indonesia ada dua, yakni Reksadana berbentuk Perseroan Terbatas (PT. Reksa Dana) dan Reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).
Reksa Dana berbentuk Perseroan (PT. Reksa Dana)
suatu perusahaan (perseroan terbatas), yang dari sisi bentuk hukum tidak berbeda dengan perusahaan lainnya. Perbedaan terletak pada jenis usaha, yaitu jenis usaha pengelolaan portofolio investasi.
Kontrak Investasi Kolektif
kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor. Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio efek dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan administrasi investasi.

Manfaat Reksadana
Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:
  1. Dikelola oleh manajemen profesional
Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.
  1. Diversifikasi investasi
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.
  1. Transparansi informasi
Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.
  1. Likuiditas yang tinggi
Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.
  1. Biaya Rendah
Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.
 Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.
Risiko Investasi Reksa Dana
  • Konservatif (Risk Averse)
    • Berkeinginan untuk mempertahankan modal dan penghasilan saat ini;
    • Pertumbuhan investasi bukan merupakan tujuan;
    • Cenderung untuk menghindari risiko investasi;
    • Memilih instrumen investasi jangka pendek
  • Moderate
    • Berkeinginan untuk mendapatkan penghasilan saat ini;
    • Bertujuan pada pertumbuhan investasi;
    • Cukup toleransi terhadap risiko investasi;
    • Memilih instrumen investasi jangka menengah.
  • Agresif (Risk Lover)
    • Tidak berkeinginan untuk mendapatkan penghasilan saat ini;
    • Bertujuan pada pertumbuhan investasi yang pesat;
    • Toleransi yang tinggi terhadap risiko investasi;
    • Memilih instrumen investasi jangka panjang.
READ MORE - Berinvestasi dalam Reksadana

Minggu, 26 September 2010

PERAN KEPERCAYAAN PADA MEREK DAN KEPUASAN DALAM MENJELASKAN LOYALITAS PADA MEREK

PENDAHULUAN
Berbagai penelitian tentang merek dilakukan mulai dari konsep luas dari ekuitas merek sampai dengan pengukuran masing-masing bagian dari ekuitas merek tersebut. Menurut Kotler (2003) merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau desain atau kombinasi dari semuanya dengan tujuan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari produsen dan untuk membedakannya dengan pesaing. Merek adalah janji yang diberikan produsen untuk menyampaikan serangkaian fitur, keuntungan dan pelayanan kepada konsumen.
Penelitian tentang loyalitas pada merek sudah banyak dilakukan. Namun demikian, loyalitas pada merek masih memerlukan kajian secara lebih mendalam. Penelitian ini mengkaji salah satu bagian dari relationship marketing, yaitu kepercayaan pada merek dan kepuasan pada merek hubungannya dengan loyalitas pada merek. Penelitian yang dilakukan oleh Mittal (1990) menguji peran kepercayaan terhadap merek dan sikap terhadap iklan sebagai variabel mediasi terhadap sikap terhadap merek. Hasil penelitian tersebut menunjukan peran variabel kepercayaan pada merek terhadap variabel sikap pada merek dengan hasil signifikan. Kepuasan adalah sikap konsumen yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap loyalitas (Lau dan Lee, 2000) dan niat beli (Fullerton, 2005).
Konsep Customer Relationship Marketing (CRM) erat kaitannya dengan loyalitas pada merek. Dalam konsep ini ada tiga unsur CRM, yaitu loyalitas, komitmen dan kepuasan (Fitzgibbon dan White, 2004; Gurviez dan Korchia,2003). Penelitian ini menganalisis dua bagian dari CRM yaitu loyalitas dan kepuasan. . Penelitian ini akan melihat aspek yang lebih mendalam yaitu kepercayaan merek yang menjadi variabel mediasi menuju terciptanya loyalitas terhadap mereka. Kotler (2004) mengemukakan bahwa salah satu bagian dari ekuitas merek adalah loyalitas terhadap merek.
Penelitian ini menganalisis bagaimana kepercayaan merek berperan sebagai variabel intervening dalam hubungan antara kepuasan pada merek dan loyalitas pada merek. Penelitian ini menggunakan setting konsumen telepon genggam. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah varibel kepuasan pada merek berpengaruh positif pada loyalitas pada merek dengan variabel kepercayaan pada merek sebagai variabel mediasi ? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara variabel kepuasan pada merek dengan variabel loyalitas pada merek yang dimediasi oleh variabel kepercayaan pada merek. Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pada teori manajemen pemasaran terutama dalam pengkajian tentang perilaku konsumen. Selain itu, pemasar dapat pula mengambil manfaat dari penelitian ini denganmenggunakan hasil penelitian ini untuk memahami aspek apa saja yang menyebabkan seorang konsumen menjadi loyal terhadap produk telepon genggam.
 


KONSEP KEPERCAYAAN PADA MEREK DAN LOYALITAS PELANGGAN
Penelitian tentang kepercayaan terhadap merk oleh Lau dan Lee (2000) menyatakan bahwa variabel itu menjadi variabel mediasi antara brand predictability, kesukaan terhadap merk, kompetensi merk, reputasi merk dan kepercayaan terhadap perusahaan dengan variabel loyalitas terhadap merek. Kepercayaan konsumen dalam literatur marketing merupakan konsep yang terkait dengan persepsi konsumen. Namun, konsep ini masih terbatas referensinya. Salah satu penjelasan teoritis tentang kepercayaan terhadap merk adalah yang dikemukakan oleh Assael (1998), di mana kepercayaan terhadap merk adalah komponen kognitif dari perilaku.

Menurut Deutsch (dalam Lau dan Lee, 2000),kepercayaan adalah harapan dari pihak-pihak dalam sebuah transaksi dan resiko yang terkait dengan perkiraan dan perilaku terhadap harapan tersebut. Assael (1998) mengemukakan bahwa dalam mengukur kepercayaan terhadap merek diperlukan penentuan atribut dan keuntungan dari sebuah merek. Pembahasan tentang kepercayaan terhadap merek akan lebih lengkap dengan menjelaskan tentang tiga komponen sikap:
1.Kepercayaan Sebagai Komponen Koginitif. Kepercayaan konsumen tentang merek adalah karakteristik yang diberikan konsumen pada sebuah merek. Seorang pemasar harus mengembangkan atribut dan keuntungan dari prroduk untuk membentuk kepercayaan terhadap merek ini.
2.Komponen Afektif, Evaluasi Terhadap Merek. Sikap konsumen yang kedua adalah evaluasi terhadap merek. Komponen ini merepresentasikan evaluasi konsumen secara keseluruhan terhadap sebuah merek. Kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek bersifat multidimensional karena hal itu terkait dengan atribut produk yang diterima di benak konsumen. Kepercayaan terhadap merek menjadi relevan pada saat hal itu berpengaruh pada evaluasi terhadap merek.
3.Komponen Konatif, Niat Melakukan Pembelian. Komponen ketiga dari sikap adalah dimensi konatif yaitu kecenderungan konsumen untuk berperilaku terhadap sebuah obyek, dan hal ini diukur dengan niat untuk melakukan pembelian.
Kepercayaan dan komitmen merupakan variabel mediasi dalam hubungan jangka panjang antara perusahaan dengan konsumen (Morgan dan Hunt, 1994). Kepercayaan dibagi menjadi dua yaitu kepercayaan organisasional dan kepercayaan personal (Ekelund dan Sharma, 2001). Kepercayaan terhadap merek merupakan bagian dari kepercayaan personal.
Menurut Gurviez dan Korchia (2003) ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dari variabel kepercayaan. Pertama, kepercayaan dan komitmen merupakan variabel yang terpenting dan strategis untuk menjaga hubungan jangka panjang antar partner industri dan bisnis. Kedua, penjelasan dari variabel kepercayaan dan komitmen dalam hubungan antara perusahaan dan konsumen, memberikan suplemen pada teori ekonomi khususnya tentang biaya transaksi. Ketiga, kesulitan terbesar dalam mengkonsepsikan kepercayaan adalah pada dasar kognitif maupun afektif. Beberapa faktor seperti merek, pengalaman masa lalu dan sebagainya dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen. Penelitian yang dilakukan Tezinde et al (2001) membuktikan bahwa kepercayaan, komitmen dan kepuasan akan mempengaruhi hubungan dengan konsumen dan loyalitas.
Loyalitas terhadap merek adalah salah satu komponen dari ekuitas merek. Ekuitas merek mempunyai lima kategori, yaitu loyalitas terhadap merek, name awareness, kulitas, asosiasi merek dan beberapa asset merek yang lain, seperti paten, trademark dan lainnya (Aaker, Kumar dan Day, 2001). Loyalitas terhadap merk adalah perilaku mengutamakan sebuah merk dengan melakukan pembelian berulang (Assael, 1998). Sedangkan Lau dan Lee

(2000) mengemukakan bahwa loyalitas terhadap merk adalah perilaku niat untuk membeli sebuah produk dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Menurut Assael (1998), ada beberapa keterbatasan dalam mengidentifikasi loyalitas terhadap merk dengan pendekatan perilaku. Pertama, mengukur loyalitas terhadap merk dengan persepsi masa lalu akan menyebabkan terjadinya bias. Kedua, pembelian yang dilakukan konsumen belum tentu merefleksikan perubahan. Ketiga, loyalitas terhadap merk lebuh merupakan fungsi dari konsep yang multidimensional daripada sebuah bagian dari perilaku masa lalu.
Menurut Jacoby dan Chestnut (dalam Dharmmesta, 1999) loyalitas dikategorikan dalam empat kelompok, yaitu:
1.Loyalitas merek fokal yang sesungguhnya (true focal brand loyalty), yaitu loyalitas pada merek tertentu yang menjadi minatnya.
2.Loyalitas merek ganda yang sesungguhnya (true multibrand loyalty).
3.Pembelian ulang (repeat purchasing) merek fokal dari non loyal.
4.Pembelian secara kebetulan (happenstance purchasing) merek fokal dan non loyal merek lain.
Penelitian ini akan meneliti kategori pertama dari pengelompokan loyalitas diatas yaitu loyalitas merek yang sesungguhnya (true focal brand loyalty).
H1 Variabel kepercayaan terhadap merek memediasi hubungan antara variabel variabel kepuasan pada merek dengan variabel loyalitas terhadap merek.
H2 Variabel variabel kepuasan pada merek, berpengaruh langsung terhadap variabel loyalitas pada merek.
H3 Variabel kepuasan pada merek dan variabel kepercayaan pada merek berpengaruh langsung terhadap variabel loyalitas terhadap merek.


KEPUASAN PADA MEREK
Kepuasan muncul apabila harapan konsumen sesuai dengan keputusan pemeblian yang dilakukan (Assael,1998). Kepuasan merupakan perilaku positif terhadap sebuah merek, yang akan bermuara pada keputusan konsumen untuk melakukan pembelian kembali merek tersebut. Kepuasan terhadap merek dapat didefinisikan sebagai hasil dari evaluasi subyektif pada saat merek alternatif terpilih sesuai atau bahkan melebihi harapan konsumen (Bloemer dan Kasper dalam Lau dan Lee, 2000). Penelitian yang dilakukan Ballester dan Aleman (2001) menunjukkan peran kepuasan terhadap merek yang akan memperkuat kepercayaan pada merek. Penelitian lain yang dilakukan oleh Tepeci (1999) mengemukakan pengaruh langsung kepuasan terhadap merek pada loyalitas dengan setting hospitality industry. Melihat pentingnya variabel kepuasan ini, penyedia jasa menjadikan pencapaian kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama perusahaan (Jones dan Saser seperti dikutip McDougall dan Levesque, 2000).
H4 Kepuasan konsumen terhadap merek berpengaruh positif terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek.


PENELITIAN TENTANG LOYALITAS PELANGGAN
Penelitian yang meneliti tentang kepercayaan pada merek sudah dilakukan oleh beberapa peneliti. Ballester dan Aleman (2001) melakukan penelitian dengan mengkaitkan antara kepercayaan konsumen terhadap merek dengan loyalitas pada merek. Penelitian ini menggunakan setting konsumen dari produk yang high involvement dengan responden 173 orang dan pengujian hipotesis dengan analisis regresi. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa kepercayaan pada merek akan mendorong munculnya komitmen dari konsumen. Hal ini terjadi dalam situasi produk high involvement.
Penelitian Purwani (2000) tentang analisis perilaku perubahan merek dalam pembelian produk otomotif dengan metode survey memberikan masukan menarik bagi peneliti. Menurut Purwani (2000) perpindahan merek pada pembelian produk otomotif dipengaruhi oleh pengetahuan tentang produk, media informasi, penjual, pengalaman masa lalu dan kepuasan. Penelitian ini memberikan masukan bagi peneliti yaitu dari dua variabel penjelas pengalaman masa lalu dan kepuasan. Kedua variabel ini menjadi anteseden dari variabel kepercayaan pada merek yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini.
Model Konseptual
Model konseptual dari penelitian ini adalah:
Kepercayaan pada merek
Loyalitas pada merek
Kepuasan pada merek
Gambar 1. Model Konseptual diadopsi dari Lau dan Lee (2000),Ballester dan Aleman (2001)
 

METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah konsumen dari produk telepon genggam. Jumlah populasi tidak diketahui sehingga population frame tidak diketahui demikian juga sampel framenya tidak diketahui. Menurut Cooper dan Schindler (2001) jumlah sampel yang perlu diambil ketika population frame tidak diketahui, jumlahnya tidak bisa ditentukan dengan pasti. Penelitian ini akan mengambil sampel sebanyak 150 orang sebagai responden. Pertimbangannya jumlah tersebut lebih dari 10 kali lipat jumlah variabel.
Metode pengambilan sampel adalah dengan metode non-probability sampling yaitu dengan metode convenience. Karakteristik responden yang diwawancarai adalah mereka yang 5
berusia antara 16-50 tahun di kota Surakarta. Pertimbangannya mereka sudah mempunyai persepsi terhadap produk telepon genggam.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode survey. Adapun instrumen penelitian yang digunakan adalan instrumen penelitian kepercayaan terhadap merek yang dikembangkan oleh Lau dan Lee (2000).
Skala Pengukuran dan Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian dari Lau dan Lee (2000) dengan skala interval dengan skala dari 1 sampai dengan 5. Angka 1 berarti sangat tidak setuju dan angka 5 berarti sangat setuju, kecuali beberapa item pertanyaan yang ditandai yang menggunakan penilaian skala yang berkebalikan. Hal ini dilakukan untuk menguji keseriusan responden dalam menjawab pertanyaan, sehingga kelompok responden outlayer dapat segera dikenali.
Penelitian ini menguji 3 variabel, yaitu variabel kepuasan pada merek sebagai variabel independen. Variabel kepercayaan pada merek sebagai variabel mediasi/intervening variable. Adapun variabel dependen dari penelitian ini adalah variabel loyalitas terhadap merek. Masing-masing variabel dijelaskan oleh beberapa item pertanyaan. Variabel kepuasan terhadap merek diukur dengan 7 pertanyaan. Variabel kepercayaan pada merk diukur dengan 5 pertanyaan dan variabel loyalitas terhadap merek diukur dengan 8 pertanyaan.
Definisi Operasional Variabel
Kepuasan pada merek adalah persepsi konsumen tentang hasil dari evaluasi subyektif pada saat merek alternatif terpilih sesuai atau bahkan melebihi harapan konsumen yang diukur dengan skala interval antara 1 sampai dengan 5.
Kepercayaan pada merk adalah persepsi konsumen apakah sebuah merk dapat diandalkan kinerjanya dan apakah mereka bersedia berharap dari kinerja merk itu yang diukur dengan skala interval antara 1 sampai dengan 5.
Loyalitas terhadap merek adalah perilaku niat untuk membeli sebuah produk dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama yang diukur dengan skala interval antara 1 sampai dengan 5.
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Responden
Jumlah sampel dalam penelitian ini sejumlah 150 orang responden. Oleh karena itu jumlah questionnare yang disebarkan adalah sebanyak 150 buah. Dari jumlah itu sebanyak 134 questionnare diisi dengan benar. Hal ini menggambarkan tingkat respon yang cukup tinggi yaitu sebesar 89,3%. 134 responden itu mempunyai karakteristik
Sumber: Data primer diolah
Selanjutnya 134 questionnare yang terkumpul dilakukan pengujian outlayer dengan menggunakan nilai Z dengan program SPSS. Hasilnya ada 25 responden yang termasuk dalam kategori outlayer, sehingga data ke-25 responden tersebut tidak digunakan dalam pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis menggunakan data yang diperoleh dari 109 responden tersisa.
Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Pengujian validitas konstruk dari instrumen menggunakan confirmatory factor analysis. Hasil pengujian validitas instrumen dengan menggunakan confirmatory factor analysis menunjukkan adanya factor loading antara 0,325 sampai dengan 0,833. Berdasarkan kriteria dari Nunnaly (1978), nilai factor loadings dari instrumen penelitian ini memenuhi syarat validitas instrumen penelitian.
Ada kelemahan mendasar dari validitas konstruk penelitian ini, yaitu konstruk kepuasan dan kepercayaan pada merek berada pada dimensi yang sama karena banyak item pertanyaan dari dua konstruk tersebut yang mengumpul dalam satu dimensi. Hal ini mengindikasikan adanya masalah dalam definisi konsep dan operasional dalam konstruk kepuasan dan kepercayaan pada merek.

Hal ini mendasari peneliti menggunakan alat analisis lain untuk menguji validitas instrumen penelitian yaitu dengan menggunakan CFA dari Structural Equation Model (SEM) untuk menguji ulang validitas konstruk dari instrumen penelitian ini. Hasilnya semua item pertanyaan mempunyai nilai critical ratio (C.R) diatas 2, yang berarti tidak ada masalah dalam hubungan faktorial antara masing-masing instrumen pertanyaan dengan konstruknya.
Pengujian reliabilitas instrumen penelitian ini menggunakan nilai korelasi Cronbach Alpha. Hasil pengujian reliabilitas diringkas dalam tabel berikut:
Tabel 3 Ringkasan Pengujian Reliabilitas Instrumen
No.
Variabel
Nilai Cronbach Alpha
1.
2.
3.
Kepuasan pada merek
Kepercayaan pada merek
Loyalitas pada merek
0,8572
0,7683
0,6301
Sumber: data primer diolah.
Hasil pengujian reliabilitas menunjukkan nilai korelasi Cronbach Alpha yang sesuai dengan criteria dari Nunnally (1978) yaitu nilai reliabilitas instrumen adalah diatas 0,6. Semua konstruk penelitian ini yaitu kepuasan pada merek, kepercayaan pada merek dan loyalitas pada merek memenuhi criteria tersebut.
Konstruk loyalitas pada merek sebelumnya mempunyai 8 item pertanyaan, namun demikian ada beberapa item pertanyaan yang harus dihilangkan karena mempunyai nilai korelasi Cronbach Alpha dibawah 0,6. Pada akhirnya yang mempunyai nilai korelasi Cronbach Alpha diatas 0,6 hanya ada 5 item pertanyaan. Item pertanyaan dari konstruk loyalitas yang masih memenuhi syarat adalah item pertanyaan ke-1,3,4,5 dan 8. Berdasarkan hasil ini, maka dalam pengujian hipotesis hanya lima item pertanyaan loyalitas itulah yang digunakan dalam pengukuran loyalitas konsumen.
PENGUJIAN HIPOTESIS
Penelitian ini akan menggunakan alat analisis Structural Equation Modeling (SEM) Ringkasan hasil pengujian regresi tertimbang (regression weight) dari persamaan SEM diringkas dalam Tabel 4.
Tabel 4 Regression Weight Structural Equation Model
Estimate

Berdasarkan kriteria dari Byrne (2001) dan Bagozzi dan Yi (1989) maka model dalam penelitian ini cukup baik dalam menjelaskan hubungan antara kepuasan pada merek, kepercayaan pada merek dan loyalitas pada merek. Hasil penelitian ini mendukung semua hipotesis yang ditarik. Ringkasan hipotesis tersebut adalah sebagai berikut:
Hipotesis
Keterangan
H1 Variabel kepercayaan terhadap merek memediasi hubungan antara variabel variabel kepuasan pada merek dengan variabel loyalitas terhadap merek.
Didukung
H2 Variabel variabel kepuasan pada merek, berpengaruh langsung terhadap variabel loyalitas pada merek.
Didukung
Kepuasan pada merek 10
H3 Variabel kepuasan pada merek dan variabel kepercayaan pada merek berpengaruh langsung terhadap variabel loyalitas terhadap merek.
Didukung
H4 Kepuasan konsumen terhadap merek berpengaruh positif terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek.
Didukung
Hasil ini sesuai dengan penelitian Lau dan Lee (2000) dan Ballester dan Aleman (2001). Berdasarkan hasil ini penyedia jasa harus mampu membangun kepercayaan konsumen pada mereknya, yang merupakan hasil dari kepuasan konsumen. Selanjutnya setelah seorang konsumen percaya pada merek penyedia jasa, loyalitas konsumen muncul dengan sendirinya. Penelitian dari Ekelund dan Sharma (2001), yang meneliti tentang pentingnya kepercayaan pada merek sebagai pembentuk komitmen dalam konsep relationship marketing memberikan penjelasan yang lebih lengkap tentang kepercayaan pada merek. Dalam penelitian tersebut, kepercayaan pada merek memberikan pengaruh pada jangka waktu hubungan konsumen dengan penyedia jasa, artinya semakin seorang konsumen percaya pada sebuah merek maka ia mempunyai komitmen untuk melakukan hubungan jangka panjang dengan penyedia jasa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara kepuasan konsumen pada merek dengan loyalitas konsumen pada merek. Hal ini nampak dari hubungan antara kepuasan konsumen terhadap loyalitas pada merek yang menunjukkan hasil positif signifikan (lihat tabel 4). Berdasarkan hasil ini maka variabel kepercayaan pada merek bukan merupakan variabel mediasi penuh (fully mediated) antara variabel kepuasan pada merek dengan loyalitas pada merek. Hasil ini juga didukung oleh studi dari Tenzinde at al (2001) yang menyatakan bahwa kepuasan mempunyai pengaruh langsung terhadap loyalitas dan komitmen. Penelitian dari Lu dan Yee (2001) dengan setting rumah makan, juga menyatakan ada pengaruh langsung dari kepuasan konsumen terhadap loyalitas konsumen. Namun demikian, pengaruh langsung dari variabel kepuasan konsumen pada merek lebih kecil daripada pengaruh kepuasan konsumen pada merek yang dimediasi oleh variabel kepercayaan pada merek.

PENUTUP
Simpulan
1.Variabel kepercayaan pada merek merupakan variabel mediasi dari hubungan antara variabel kepuasan pada merek dengan variabel loyalitas pada merek.
2.Variabel kepercayaan pada merek tidak memediasi secara penuh (fully mediated) hubungan antara variabel kepuasan pada merek dengan loyalitas pada merek. Hal ini nampak dari adanya pengaruh langsung variabel kepuasan pada merek terhadap variabel loyalitas pada merek.
3.Variabel kepuasan pada merek berpengaruh positif signifikan terhadap variabel kepercayaan pada merek.
4.Variabel kepercayaan pada merek berpengaruh positif terhadap variabel kepuasan pada merek.
Saran
Penelitian ini memberikan memberikan implikasi pada usaha untuk memperkuat loyalitas merek pada produk high involvement yaitu dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.Hasil penelitian memberikan simpulan bahwa kepercayaan konsumen pada perusahaan adalah salah satu faktor penting dalam usaha membangun loyalitas pada merek. Hal ini menekankan perlunya perusahaan membangun komunikasi pemasaran yang baik. Kotler (2003) mengemukakan pentingnya sebuah komunikasi pemasaran yang terintegrasi. Komunikasi pemasaran yang terintegrasi adalah semua kegiatan dalam promosi pemasaran (iklan, direct marketing, humas dll) dilakukan secara bersama-sama dan terdiri dari banyak aspek. Menurut Kotler (2003) ada 8 tahapan dalam membangun komunikasi pemasaran yang efektif, yaitu: mengidentifikasi audiens yang menjadi target, menentukan tujuan komunikasi pemasaran, mendesain pesan, memilih media komunikasi, menentukan anggaran dari komunikasi pemasaran, menentukan bauran komunikasi, mengukur hasil komunikasi pemasaran dan mengelola proses komunikasi pemasaran yang terintegrasi. Perusahaan telepon seluler perlu melakukan komunkasi pemasaran yang terintegrasi secara terus menerus dalam rangka membangun loyalitas konsumen.
2.Hasil penelitian ini juga memberikan simpulan bahwa kepuasan konsumen akan mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap loyalitas pada merek. Kepuasan adalah gap antara janji yang disampaikan pemasar dengan layanan yang diterima konsumen (Kotler, 2003). Hal ini memberikan gambaran pada perusahaan produsen telepon seluler agar senantiasa memenuhi janji yang mereka sampaikan pada konsumen mereka dalam kampamye iklan yang mereka lakukan.

Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan yang dapat menjadi dasar bagi peneliti lain untuk melakukan pendalaman.
1 Metode pengambilan sampel yang menggunakan metode convenience menyebabkan generalisasi dari penelitian ini menjadi lemah.
2 Variasi dari produk telepon seluler yang banyak sekali, menyebabkan peneliti kesulitan memperoleh persepsi responden secara utuh. Sebagai contoh satu merek telepon seluler Nokia yang mempunyai ratusan seri, tentu akan memberikan persepsi yang berbeda di benak konsumen. Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan variasi dari produk telepon seluler ini.

DAFTAR PUSTAKA
Aaker, David A, V Kumar dan Georges S. Day (2001). Marketing Research. 7th Ed., New York. John Wiley and Sons.
Assael, Henry (1998).Consumer Behavior and Marketing Action. 6 th Ed., New York South Western College Publishing.
Bagozzi, Richard dan Youjae Yi (1989), On The Use of Structural Equation Models in Experimental Design, Journal of Marketing Research, Vol XXVI, h 271-184.
Byrne, Barbara M (2001). Structural Equation Modeling with AMOS, Basic Concepts, Applications and Programming, Lawrence Erlbaum Associates Publisher, London.
Ballester, Elena Delagado dan Jose Luis Munuera-Aleman (2001), “Brand trust in the Context of Consumer Loyalty,” European Journal of Marketing, Vol. 35 No. 11/12. pp 1238-1258.
Cooper, Donald P dan P. S. Schindler (2001). Business Research Methods. 7 th Edition Boston. McGraw Hill.
Dharmmesta, Basu S. (1999).” Loyalitas Pelanggan: Sebuah Kajian Konseptual Sebagai Panduan Bagi Peneliti,” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 14 No.3. pp 73-78.
Ekelund, Christer dan Deo D. Sharma (2001), “The Impact of Trust on Relationship Commitment: A Study of Standardized Products in a Mature Industrial Market,” Laporan Penelitian Tidak Dipublikasikan.
Gurviez, Patricia dan Michael Korchia (2003). “ Test of a Consumer-Brand Relationship Model Including Trust and Three Consequences,” Makalah Seminar dalam 30th International Research Seminar in Marketing, 11-13 Juni.
Kotler, Philip (2003). Marketing Management,11th Ed., New Jersey. Prentice Hall International.
Lau, Geok Theng dan Sook Han Lee (2000). “Consumer’s Trust in a Brand and the Link to Brand Loyalty,”. Journal of Market Focused Management. 4, pp 341-370.
Lu Ting Pong, Johnny dan Tang Pui Yee, Esther (2001), An Integrated Model of Service Loyalty, Makalah dalam Academy of Business & Administrative Sciences International Conferences, Brussels, Belgium , 23-25 July.
McDougall, Gordon H.G dan Terrence Levesque (2000), Customer Satisfaction with Services: Putting Perceived Value into The Equation, Journal of Services Marketing, Vol. 14 No. 5, pp 392-410.
Mittal Banwari (1990). “The Relative Roles of Brand Beliefs and Attitude Toward the Ad as Mediators of Brand Attitude: A Second Look,”Journal of Marketing Research. Vol. XXVII No. 2, pp 87-112.
Morgan R. dan Hunt S. (1994), “The Commitment-Trust Theory of Relationship Marketing,” Jounal of Marketing, 58, July, pp 110-124.

Nunnally, J (1978). Psychometric Theory, 2nd Edition, NY: McGraw Hill.
Purwani, Khusniyah (2000) “Analisis Perilaku Brand Switching Konsumen dalam Pembelian Produk-Produk Otomotif”, Tesis tidak dipublikasikan, Program Magister Sains Ilmu-Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Tezinde, Tito, Jamie Murphy, Don Thi Hong, Chau Nguyen dan Cameron Jenkinson (2001), “ Cookies: Walking the Fine Line Between Love and Hate,” Makalah dalam 4th Western Australian Workshop on Information System Research (WAWISR 2001).

READ MORE - PERAN KEPERCAYAAN PADA MEREK DAN KEPUASAN DALAM MENJELASKAN LOYALITAS PADA MEREK